person holding baby's toe with yellow petaled flower in between

Mendengar diagnosa Endometriosis atau adanya Kista Cokelat (Endometrioma) seringkali menjadi momen yang berat bagi pejuang garis dua. Selain rasa nyeri haid yang menyiksa, kekhawatiran terbesar biasanya muncul: “Apakah saya masih bisa hamil dengan kondisi rahim seperti ini?”

Jawabannya adalah: Ya, peluang itu masih sangat terbuka.

Endometriosis memang menjadi salah satu penyebab utama infertilitas pada wanita, namun teknologi reproduksi berbantu, khususnya Bayi Tabung (IVF), telah membantu ribuan wanita dengan kondisi ini untuk menjadi seorang ibu.

Mengapa IVF sering disebut sebagai “jalan pintas” terbaik bagi penderita endometriosis? Berikut adalah 5 fakta medis yang perlu Anda ketahui:

1. IVF “Menenangkan” Lingkungan Rahim

Endometriosis adalah kondisi peradangan kronis. Jaringan dinding rahim yang tumbuh di luar tempatnya (seperti di indung telur atau saluran tuba) menciptakan lingkungan yang “beracun” bagi sel telur dan sperma.

Pada pembuahan alami, sperma harus berenang melewati lingkungan peradangan ini untuk bertemu sel telur. Seringkali, sperma mati atau sel telur rusak sebelum pembuahan terjadi. Dalam prosedur Bayi Tabung (IVF), pertemuan sperma dan sel telur dilakukan di laboratorium (cawan petri), sehingga proses pembuahan terlindungi dari peradangan yang ada di dalam tubuh Anda.

2. Solusi untuk Tuba Falopi yang Lengket

Salah satu dampak buruk endometriosis adalah terjadinya perlengketan (adhesi) antar organ reproduksi. Seringkali, perlengketan ini membuat saluran tuba falopi menjadi buntu atau kaku, sehingga tidak bisa menangkap sel telur.

Jika saluran tuba tersumbat, inseminasi buatan (IUI) atau cara alami tidak akan berhasil. IVF adalah satu-satunya solusi yang dapat “memotong kompas” masalah ini karena sel telur langsung diambil dari indung telur (OPU) tanpa harus melewati saluran tuba.

3. Operasi Tidak Selalu Menjadi Langkah Pertama

Banyak pasien berpikir mereka harus operasi pengangkatan kista cokelat terlebih dahulu sebelum promil. Padahal, hal ini tidak selalu benar.

Operasi pada indung telur berisiko mengurangi cadangan sel telur (Ovarian Reserve) atau menurunkan kadar AMH Anda secara drastis. Dokter fertilitas di Nusraya IVF biasanya akan mengevaluasi ukuran kista. Jika memungkinkan, dokter akan menyarankan untuk melakukan simpan embrio (embrio freezing) terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan tindakan bedah, demi menyelamatkan cadangan telur Anda.

4. Protokol “Frozen Embryo Transfer” (FET) Meningkatkan Peluang

Untuk penderita endometriosis, dokter sering menyarankan protokol Tunda Transfer atau Frozen Embryo Transfer.

Caranya, setelah sel telur diambil dan dibuahi menjadi embrio, embrio tersebut tidak langsung dimasukkan ke rahim. Embrio akan dibekukan (disimpan) terlebih dahulu. Selama jeda waktu ini, dokter akan memberikan terapi hormon untuk menekan endometriosis dan meredakan peradangan di rahim. Setelah rahim “tenang” dan siap, barulah embrio dimasukkan. Strategi ini terbukti meningkatkan angka keberhasilan kehamilan secara signifikan.

5. Kualitas Telur Adalah Kunci (Dan Waktu Sangat Berharga)

Harus diakui, endometriosis dapat menurunkan kualitas sel telur seiring berjalannya waktu. Kista cokelat dapat “memakan” jaringan ovarium yang sehat.

Oleh karena itu, bagi penderita endometriosis, waktu adalah musuh utama. Menunda kehamilan atau mencoba cara alami terlalu lama bisa berisiko. Melakukan program IVF sesegera mungkin saat cadangan telur masih baik adalah langkah paling bijak untuk mengamankan peluang kehamilan Anda.


Kesimpulan

Endometriosis dan kista cokelat memang tantangan yang serius, tetapi bukan jalan buntu. Dengan strategi medis yang tepat, penanganan hormon, dan teknologi IVF, impian menimang buah hati sangat mungkin diwujudkan.

Jika Anda mengalami nyeri haid hebat dan kesulitan hamil, jangan menunggu lebih lama. Konsultasikan kondisi rahim Anda dengan dokter spesialis di Nusraya Fertility Center. Kami siap mendampingi perjalanan Anda menjemput buah hati.