Salah satu momen paling memilukan bagi pejuang garis dua adalah mengalami keguguran setelah dinyatakan positif hamil, atau mendapati hasil tes kehamilan negatif berulang kali padahal embrio yang ditanam diklaim “bagus”.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawabannya seringkali terletak pada sesuatu yang tak kasat mata: Kelainan Kromosom.
Embrio bisa saja terlihat sempurna bentuknya di bawah mikroskop, namun membawa “cacat” genetik di dalamnya yang membuatnya tidak bisa berkembang menjadi bayi sehat. Di sinilah peran teknologi PGT-A (Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy) menjadi sangat vital.
Secara sederhana, PGT-A adalah proses “cek kualitas” (Quality Control) pada embrio sebelum dimasukkan ke dalam rahim. Berikut adalah 5 fakta penting tentang PGT-A yang perlu Anda ketahui:
1. Membedakan “Sampul Buku” dengan “Isi Buku”
Cara termudah memahami PGT-A adalah dengan membayangkan embrio seperti sebuah buku.
-
Grading Embrio Biasa: Embriolog hanya menilai “sampulnya” saja. Apakah sampulnya mulus? Tebal? Rapi?
-
Tes PGT-A: Kita membuka buku tersebut dan membaca “isinya”. Apakah halamannya lengkap? Apakah ada halaman yang hilang atau dobel?
Embrio manusia normal harus memiliki 46 kromosom (23 pasang). Jika jumlahnya kurang atau lebih (Aneuploidi), embrio tersebut hampir pasti akan gagal tumbuh. PGT-A bertugas menghitung jumlah kromosom ini dengan akurasi tinggi.
2. Memutus Mata Rantai Keguguran Berulang
Sekitar 60-70% keguguran di trimester pertama disebabkan oleh masalah kromosom pada janin. Ini adalah cara alami tubuh menyeleksi kehamilan yang tidak sehat.
Jika Anda memiliki riwayat keguguran berulang (Recurrent Pregnancy Loss), melakukan IVF tanpa PGT-A ibarat membeli kucing dalam karung. Anda mungkin mentransfer embrio yang secara genetik memang tidak mampu bertahan hidup. Dengan PGT-A, kita menyaring embrio “rusak” tersebut di awal, sehingga hanya embrio sehat (Euploid) yang ditransfer. Ini menurunkan risiko keguguran secara drastis.
3. Meningkatkan Peluang Hamil di Usia Matang
Fakta biologis yang tak terelakkan: Semakin bertambah usia wanita (terutama di atas 35-38 tahun), semakin tinggi persentase sel telur yang menghasilkan embrio abnormal.
Pada wanita usia 40 tahun, misalnya, mungkin 7 dari 10 embrio yang dihasilkan memiliki kelainan kromosom (Down Syndrome, Turner Syndrome, dll). Tanpa PGT-A, dokter mungkin perlu melakukan berkali-kali transfer embrio sampai “menemukan” yang satu yang sehat. PGT-A membantu kita menemukan “jarum di tumpukan jerami” tersebut lebih cepat, menghemat waktu dan biaya transfer berulang.
4. Prosesnya Aman untuk Embrio
Banyak pasien khawatir: “Apakah mengambil sampel tidak menyakiti calon bayi?”
Prosedur biopsi PGT-A dilakukan pada fase Blastokista (embrio hari ke-5). Pada tahap ini, embrio sudah terdiri dari ratusan sel yang terbagi menjadi dua bagian: sel yang akan jadi bayi (Inner Cell Mass) dan sel yang akan jadi plasenta/ari-ari (Trophectoderm).
Ahli embriologi di Nusraya IVF hanya akan mengambil 3-5 sel dari bagian calon plasenta, bukan bagian calon bayi. Jadi, prosedur ini sangat aman dan tidak menyebabkan cacat fisik pada janin.
5. Mengurangi Risiko Bayi Lahir Cacat
Selain meningkatkan peluang hamil, tujuan mulia PGT-A adalah melahirkan generasi yang sehat.
Teknologi ini dapat mendeteksi kelainan jumlah kromosom seperti Trisomi 21 (Down Syndrome), Trisomi 18 (Edwards Syndrome), dan kelainan berat lainnya yang bisa menyebabkan bayi lahir dengan tantangan kesehatan seumur hidup atau meninggal sesaat setelah lahir. PGT-A memberikan ketenangan pikiran (peace of mind) bagi calon orang tua selama masa kehamilan.
Kesimpulan
PGT-A bukan sekadar teknologi tambahan, melainkan investasi untuk kesehatan masa depan buah hati Anda. Bagi pasangan dengan indikasi medis tertentu, teknologi ini adalah jembatan terbaik untuk menghindari trauma keguguran dan mempercepat pertemuan dengan sang buah hati.
Jangan biarkan ketidakpastian menghantui program hamil Anda. Diskusikan opsi paket IVF dengan teknologi PGT-A bersama dokter spesialis fertilitas kami di Nusraya Fertility Center.