Pengaruh Usia terhadap Kesuburan yang Perlu Dipahami Pasangan

Written by : Digital Marketing Nusraya Fertility Center

Banyak pasangan yang menunda program hamil dengan alasan ingin fokus bekerja, melanjutkan pendidikan, menunggu kondisi finansial lebih stabil, atau merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, dalam dunia fertilitas, usia memiliki peran yang sangat penting terhadap peluang kehamilan.

Pada wanita, usia berhubungan erat dengan jumlah dan kualitas sel telur. Seiring bertambahnya usia, cadangan telur akan berkurang secara alami. Tidak hanya jumlahnya, kualitas sel telur juga dapat menurun sehingga peluang pembuahan, perkembangan embrio, dan keberhasilan kehamilan ikut terpengaruh. ASRM menjelaskan bahwa jumlah dan kualitas sel telur menurun secara progresif, terutama setelah pertengahan usia 30-an.

Usia memang bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan program hamil. Namun, usia dapat membantu dokter menentukan strategi yang paling tepat, apakah pasangan masih dapat mencoba program alami, inseminasi, atau perlu mempertimbangkan bayi tabung/IVF.

Usia Ideal untuk Hamil

Secara umum, rentang usia 20 hingga 35 tahun sering dianggap sebagai masa yang lebih optimal untuk kehamilan. Pada rentang usia ini, peluang hamil biasanya lebih baik, risiko komplikasi cenderung lebih rendah, dan kualitas sel telur masih relatif lebih baik dibandingkan usia yang lebih matang. Materi internal yang diberikan juga menekankan bahwa usia 20–35 tahun merupakan rentang yang optimal untuk peluang hamil dan risiko kehamilan yang lebih rendah.

Namun, bukan berarti wanita di atas usia 35 tahun tidak bisa hamil. Banyak wanita tetap memiliki peluang untuk hamil, baik secara alami maupun melalui bantuan teknologi reproduksi. Hanya saja, pemeriksaan dan perencanaan sebaiknya dilakukan lebih cepat agar peluang yang ada dapat dimaksimalkan.

Kapan Harus Mulai Periksa Kesuburan?

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu terlalu lama sebelum melakukan pemeriksaan. Padahal, semakin cepat penyebab sulit hamil diketahui, semakin cepat pula pasangan bisa mendapatkan pilihan penanganan yang sesuai.

Secara umum, pasangan dianjurkan melakukan pemeriksaan kesuburan bila belum hamil setelah 12 bulan berhubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi, terutama bila usia wanita masih di bawah 35 tahun. Namun, bila usia wanita sudah 35 tahun atau lebih, pemeriksaan sebaiknya dilakukan setelah 6 bulan mencoba hamil. ASRM juga menyatakan evaluasi kesuburan sebaiknya dimulai setelah 12 bulan pada wanita di bawah 35 tahun, dan setelah 6 bulan pada wanita usia 35 tahun atau lebih.

Untuk wanita usia di atas 38 atau 40 tahun, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda terlalu lama. Pada usia ini, waktu menjadi faktor penting karena cadangan telur dapat terus menurun dari tahun ke tahun.

Mengapa Usia 35 Tahun Sering Disebut Batas Penting?

Usia 35 tahun sering menjadi perhatian dalam pembahasan fertilitas karena pada usia ini penurunan kualitas dan jumlah sel telur biasanya mulai lebih terasa. Penurunan kesuburan sebenarnya dapat mulai terjadi lebih awal, tetapi setelah usia 35 tahun, penurunannya cenderung lebih signifikan.

Itulah sebabnya, pasangan dengan usia wanita 35 tahun ke atas sebaiknya lebih aktif mencari informasi dan melakukan pemeriksaan dasar kesuburan. Tujuannya bukan untuk membuat panik, tetapi agar pasangan memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi reproduksi dan pilihan program hamil yang paling sesuai.

Pemeriksaan Kesuburan Sebaiknya Dilakukan Berdua

Program hamil bukan hanya tentang kondisi istri. Kesuburan adalah kondisi pasangan, sehingga pemeriksaan idealnya dilakukan oleh suami dan istri.

Pada wanita, pemeriksaan dasar dapat mencakup USG transvaginal untuk melihat kondisi rahim, ovarium, kemungkinan adanya kista, miom, endometriosis, serta jumlah folikel antral atau antral follicle count. Pemeriksaan ini dapat membantu memperkirakan cadangan telur. Pemeriksaan AMH atau Anti-Müllerian Hormone juga dapat dilakukan untuk menilai cadangan ovarium secara lebih mendalam.

Pada pria, pemeriksaan dasar biasanya berupa analisis sperma. Pemeriksaan ini menilai jumlah sperma, pergerakan atau motilitas sperma, serta bentuk atau morfologi sperma. Pada kondisi tertentu, terutama bila usia pria sudah lebih matang atau ada riwayat keguguran/hamil tidak berkembang, pemeriksaan tambahan seperti DNA Fragmentation Index atau DFI dapat dipertimbangkan.

Usia Pria Juga Dapat Memengaruhi Kesuburan

Banyak orang mengira kesuburan hanya berkaitan dengan wanita. Padahal, usia dan gaya hidup pria juga dapat memengaruhi kualitas sperma.

Seiring bertambahnya usia, terutama di atas 40 tahun, kualitas sperma dapat berubah. Volume semen, motilitas, morfologi, hingga fragmentasi DNA sperma dapat mengalami penurunan. ASRM menyebutkan bahwa peningkatan usia pria berhubungan dengan penurunan volume semen, motilitas, morfologi sperma, serta peningkatan fragmentasi DNA sperma.

Karena itu, pria yang sudah pernah memiliki anak sebelumnya tetap dapat mengalami perubahan kualitas sperma di kemudian hari. Faktor seperti stres, merokok, pola makan tidak sehat, berat badan berlebih, paparan pekerjaan tertentu, dan gaya hidup juga dapat memengaruhi kesuburan pria.

Usia 40 Tahun, Masih Bisa Hamil?

Usia 40 tahun bukan berarti peluang hamil tertutup. Masih ada wanita yang dapat hamil di usia 40 tahun ke atas, baik secara alami maupun melalui program hamil berbantu. Namun, peluangnya memang berbeda dibandingkan usia yang lebih muda.

Pada usia 40-an, cadangan telur umumnya sudah lebih rendah, kualitas sel telur dapat menurun, dan risiko kelainan kromosom serta keguguran meningkat. ACOG menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, jumlah sel telur menurun dan sel telur yang tersisa lebih berisiko memiliki kromosom abnormal.

Karena itu, pasangan usia 40 tahun ke atas sebaiknya tidak menunda pemeriksaan. Pemeriksaan awal dapat membantu menentukan apakah masih memungkinkan mencoba program alami, inseminasi, atau sebaiknya langsung mempertimbangkan bayi tabung/IVF.

Program Hamil Harus Disesuaikan dengan Kondisi Pasangan

Tidak semua pasangan dengan usia muda bisa langsung berhasil secara alami. Sebaliknya, tidak semua pasangan usia 40 tahun harus selalu langsung menjalani bayi tabung. Setiap pasangan memiliki kondisi yang berbeda.

Ada pasangan yang masih dapat mencoba program alami dengan bantuan induksi ovulasi dan pengaturan jadwal hubungan. Ada juga yang lebih cocok menjalani inseminasi. Namun, pada kondisi tertentu seperti saluran tuba tersumbat, cadangan telur sangat rendah, AMH rendah, usia sudah lebih matang, atau kualitas sperma sangat kurang, bayi tabung/IVF dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Hal terpenting adalah melakukan evaluasi terlebih dahulu. Dari hasil pemeriksaan, dokter dapat menyusun rencana yang lebih personal dan realistis.

Jangan Menunda Terlalu Lama

Salah satu prinsip penting dalam program hamil adalah tidak menunda terlalu lama, terutama bila usia sudah di atas 35 tahun. Dalam konteks fertilitas, perbedaan satu tahun dapat berdampak pada cadangan telur dan pilihan program yang tersedia.

Jika saat ini usia sudah 35 tahun ke atas dan belum hamil setelah beberapa bulan mencoba, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan. Bukan untuk terburu-buru, tetapi untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menyusun langkah berikutnya.

Semakin cepat pemeriksaan dilakukan, semakin banyak pilihan yang dapat dipertimbangkan.

Egg Freezing: Pilihan untuk Menjaga Peluang di Masa Depan

Bagi wanita yang belum siap hamil, belum menikah, sedang fokus karier, atau memiliki kondisi medis tertentu, egg freezing atau pembekuan sel telur dapat menjadi salah satu pilihan untuk mempertahankan peluang reproduksi di masa depan.

Egg freezing dilakukan dengan mengambil sel telur pada usia saat kualitasnya masih lebih baik, lalu membekukannya untuk digunakan di kemudian hari. Ketika nantinya pasien siap memiliki anak, sel telur tersebut dapat digunakan dalam proses bayi tabung dengan sperma pasangan.

Meski begitu, egg freezing bukan jaminan pasti hamil di masa depan. Keberhasilannya tetap dipengaruhi oleh usia saat sel telur dibekukan, jumlah sel telur yang berhasil disimpan, kualitas sel telur, serta kondisi kesehatan reproduksi secara keseluruhan. ASRM menekankan pentingnya konseling yang jelas agar pasien memahami manfaat, keterbatasan, dan ekspektasi realistis dari pembekuan sel telur.

Jangan Takut Periksa Kesuburan

Banyak pasangan merasa takut untuk memulai pemeriksaan karena khawatir mendengar hasil yang tidak sesuai harapan. Ada juga yang merasa malu membicarakan masalah infertilitas, bahkan dengan keluarga sendiri.

Padahal, pemeriksaan kesuburan bukan berarti pasangan pasti memiliki masalah besar. Pemeriksaan justru membantu mengetahui kondisi sejak awal. Dengan begitu, pasangan tidak hanya menunggu tanpa arah, tetapi memiliki rencana yang lebih jelas.

Usia memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Ada pasangan usia muda yang membutuhkan bantuan medis lebih lanjut, dan ada pula pasangan usia matang yang masih memiliki peluang baik. Kuncinya adalah mengetahui kondisi masing-masing melalui pemeriksaan yang tepat.

Kesimpulan

Pengaruh usia terhadap kesuburan tidak boleh diabaikan. Pada wanita, bertambahnya usia dapat memengaruhi jumlah dan kualitas sel telur. Pada pria, usia dan gaya hidup juga dapat memengaruhi kualitas sperma.

Jika usia masih di bawah 35 tahun, pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan bila belum hamil setelah 1 tahun mencoba. Jika usia sudah 35 tahun ke atas, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih cepat, yaitu setelah 6 bulan mencoba. Untuk usia 38–40 tahun ke atas, sebaiknya jangan menunda terlalu lama.

Program hamil yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi pasangan. Pilihannya bisa berupa program alami, inseminasi, bayi tabung/IVF, atau egg freezing untuk perencanaan masa depan.

Bagi pasangan yang sedang berjuang mendapatkan buah hati, jangan berkecil hati. Langkah pertama yang penting adalah berani memeriksakan diri dan berdiskusi dengan tenaga medis yang tepat.

Kunjungi kami di: 📍 Lantai 1 RSIA Paramount, Jl. A. P. Pettarani No. 82, Makassar 📞 WhatsApp: 0811 4770 8882🌐 Instagram: @nusrayaivfmakassar