Melihat hasil analisis sperma yang menunjukkan angka 0 (Nol) atau Azoospermia seringkali menjadi pukulan terberat bagi seorang pria. Perasaan sedih, bingung, hingga rasa “kurang jantan” adalah reaksi yang sangat manusiawi.
Banyak pasangan yang menyerah saat mendengar diagnosa ini, mengira bahwa pintu untuk memiliki keturunan biologis telah tertutup rapat.
Namun, dunia kedokteran reproduksi telah berkembang pesat. “Tidak ada sperma saat ejakulasi” bukan berarti “tidak ada sperma sama sekali di dalam tubuh”. Seringkali, pabrik sperma masih berproduksi, hanya saja jalan keluarnya yang buntu.
Di Nusraya IVF, kami memiliki solusi teknologi bernama PESA dan TESA. Berikut adalah 5 fakta harapan yang perlu Anda ketahui tentang prosedur ini:
1. Azoospermia: Masalah Distribusi, Bukan Selalu Masalah Produksi
Secara umum, Azoospermia dibagi dua:
-
Tipe Sumbatan (Obstruktif): Pabrik (testis) memproduksi sperma dengan normal, tetapi salurannya tersumbat atau tidak terbentuk (bawaan lahir). Sperma ada, tapi terperangkap di dalam.
-
Tipe Non-Sumbatan (Non-Obstruktif): Ada masalah pada produksi di pabriknya, sehingga sperma yang dihasilkan sangat sedikit atau jarang.
Kabar baiknya? Kedua kondisi ini masih memiliki peluang untuk ditangani lewat pengambilan sperma langsung (Sperm Retrieval).
2. PESA: Teknik Jarum Halus Tanpa Sayatan
Untuk kasus sumbatan (Obstruktif), dokter biasanya melakukan tindakan PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration).
Bayangkan sebuah pipa air yang mampet di ujung. PESA bekerja dengan cara menyedot air (sperma) langsung dari tangki penampungan (epididimis) menggunakan jarum yang sangat halus.
-
Kelebihan: Prosedur ini sangat cepat, minim rasa sakit, dan tidak memerlukan sayatan bedah terbuka. Pasien biasanya bisa langsung pulang di hari yang sama.
3. TESA: Mencari Langsung ke “Dapur” Produksi
Jika PESA tidak menemukan sperma, atau jika diagnosanya adalah masalah produksi (Non-Obstruktif), dokter akan melakukan TESA (Testicular Sperm Aspiration).
Pada prosedur ini, dokter akan mengambil sampel jaringan kecil langsung dari buah zakar (testis). Tim embriolog di laboratorium kemudian akan “membedah” jaringan tersebut di bawah mikroskop canggih untuk mencari sel sperma yang bersembunyi di dalamnya. Meskipun produksinya sedikit, kita hanya butuh satu sperma sehat untuk satu sel telur.
4. Wajib Dikombinasikan dengan ICSI (Suntik Sperma)
Sperma yang diambil lewat prosedur operasi PESA/TESA biasanya belum matang sempurna atau jumlahnya terbatas, sehingga tidak memiliki kemampuan berenang yang kuat untuk membuahi telur secara alami.
Oleh karena itu, prosedur ini selalu dipasangkan dengan program Bayi Tabung (IVF) menggunakan teknik ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection). Embriolog akan memilih satu sperma terbaik hasil operasi, lalu menyuntikkannya langsung ke dalam inti sel telur istri. Tingkat keberhasilan pembuahan dengan metode ini sangat tinggi.
5. Tidak Perlu Jutaan Sperma, Cukup Beberapa Saja
Dulu, pria butuh jutaan sperma untuk bisa menghamili istri. Di era teknologi modern seperti sekarang, paradigma itu berubah.
Untuk program bayi tabung dengan ICSI, jika istri memiliki 10 sel telur, kita hanya membutuhkan 10 sel sperma kehidupan. Inilah mengapa pria dengan kondisi Azoospermia berat sekalipun masih memiliki peluang besar untuk menjadi ayah biologis lewat bantuan teknologi ini.
Kesimpulan
Jangan biarkan lembar hasil lab “Azoospermia” memupus harapan Anda. Di balik angka nol tersebut, seringkali masih tersimpan potensi kehidupan yang bisa dijemput dengan teknologi yang tepat.
Langkah pertama adalah evaluasi. Konsultasikan kondisi hormon dan fisik Anda dengan Dokter Andrologi di Nusraya Fertility Center. Kami akan membantu Anda menemukan “pasukan” yang tersembunyi demi hadirnya sang buah hati.